#JikaAkuMenjadi
Pagi sekali, aku
dibangunkan oleh bunyi getar di atas meja belajarku. Alarm yang sengaja ku stel
di pukul 4 telah menjalankan amanahnya. Aku bangkit dan terdiam duduk di
pinggir tempat tidurku, entah kenapa bayang-bayang tugas mata kuliah profesor
** yang harus kuselesaikan dalam waktu dua minggu ini terasa berat dan
membebankan. Iya sih, tugasnya adalah tugas untuk kami sekelas (aku hanya perwakilan
teman kelas), tetapi bagiku, membuat instrumen itu nggak gampang lah yaa,
makanya sampai-sampai bikin tidur kurang enaknya.
Teringat pula
perbincanganku dengan ketiga temanku di kelas waktu itu, mereka mengeluhkan
susahnya mereka harus membagi waktu untuk kuliah, dan mereka menanyakan aku.
“Kamu, kok
keliatannya nyantai saja sih? Eh.. taunya tugas udah selesai aja”. (haduh,
padahal nggak nyantai juga kali)
“Ya, kan aku
udah punya waktu full untuk kuliah, karena merasa aku harus fokus di kuliah
makanya aku resign dari bimbel. Ya… ingat kata-kata profesor ** ketika tes
wawancara sih, aku Cuma dikasih jatah 3 semester untuk kuliah. Ya… meskipun
nggak ada peraturan mahasiswa nggak boleh kuliah lebih dari 3 semester, tapi aku
mau wujudkan keinginan itu. Kenapa prof bilang gitu, kan karena prof percaya
sama aku.”
“Ya deh… yang
mantan mahasiswanya profesor **. Eh… btw kamu nyambung kuliah supaya apa?”
“Ya, kalau
bisa sih, aku pengen banget jadi dosen.”
“Itu cita-cita
kamu?”
“Jujur sih
nggak, dulu nggak sempat terfikirkan untuk jadi dosen sih, cuma sejak aku
kuliah, ngeliat dosen itu keren banget ya, ngajarnya orang-orang yang udah
gede, orang-orang yang berasa sok dewasa, kayak kita, hehe… jadi ya… jadi
kepengen deh jadi dosen.”
“Jangan-jangan
terinspirasi dari profesor ** lagi ya, kamu?”
“Hehe.. iya.”
Iya, memang! Mungkin
ketika aku kuliah strata 1 dulu, tidak semua teman-teman yang suka sama
profesor A******I, entahlah setiap orang memang memiliki alasan sendiri kenapa
ia menyukai dan tidak menyukai seseorang, termasuk aku. Tetapi bagiku prof **
itu adalah inspirasi. Gimana nggak, masih muda udah jadi profesor (aku nggak
tau sih, kapan bapak itu jadi profesor, tapi yang aku tau, ketika awal kuliah
dulu (tahun 2009) bapak itu udah jadi profesor, dan terlihat sangat muda (seperti
masih umur 40 tahun) meski sekarang aku udah tau kalau beliau kelahiran tahun
1959 (berarti bukan umur 40) tetapi beliau tetap keren lah. Terus, profesor **
itu pintar banget, buku yang ditulisnya jangan ditanya, wawasannya juga luas
banget, jadi ngiriiiii…. Kepengen sepintar itu jugaaaa…
Nah,
#JikaAkuMenjadi Dosen nanti, aku
ingin jadi dosen yang seperti profesor A******I, pintar, wawasan luas, rapi,
awet muda pula, hehe. Tapi aku tambahin, aku juga bakal jadi dosen yang
memahasiswa (kalau pemimpin kan merakyat) maksudnya dekat gitu, sama mahasiswa,
dosen yang mau membantu –tidak mempersulit– mahasiswa, dosen yang tidak pelit
nilai, dosen pembimbing (tugas akhir: skripsi/tesis) yang mudah dicari (nggak
susah dicari, bahkan suka keluar kota atau negara), dan yang jelas, aku mau
jadi dosen yang menginspirasi mahasiswanya, seperti profesor ** yang telah
menginspirasiku.
waaah kakak lanjut S2 yaa ?
BalasHapuss2 itu apa? apa? apa?
Hapushehe... iya nih. doakan semoga cepat lulus yaaaa :D
Aamiin...
Hapusngak ngajak-ngajak Kakak, Haha :P
hahaa..
Hapusmau ngajak siih, tapi males barengan aah, ntar kak ga jadi senior lagi kalau kita barengan..
Hendri masuk semester depan aja yaaa :p
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus